Nasional

Menaker: BLK Bertransformasi Jadi Inkubator Bisnis dan Talent Hub 2026

Akhmad Madani
×

Menaker: BLK Bertransformasi Jadi Inkubator Bisnis dan Talent Hub 2026

Sebarkan artikel ini
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli (foto:Radar Buntok/Biro Humas Kemnaker)

BANDUNG — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan Balai Latihan Kerja (BLK) kini tidak hanya menjadi tempat pelatihan, tetapi dikembangkan sebagai inkubator bisnis dan pusat pengembangan talenta di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bandung, Bandung, Jawa Barat (Jabar), Jumat (8/5).

Pemerintah mengoptimalkan BLK sebagai pusat pelatihan vokasi adaptif dan inklusif untuk menjawab kebutuhan industri domestik maupun internasional pada 2026.

Yassierli mengatakan, transformasi BLK diarahkan menjadi Talent and Innovation Hub, klinik produktivitas, serta inkubator bisnis agar lulusan siap kerja atau mampu merintis usaha mandiri.

“BLK tidak hanya sekadar menjadi tempat pelatihan, tetapi juga dikembangkan sebagai Talent and Innovation Hub, klinik produktivitas, serta inkubator bisnis agar lulusan siap kerja atau mampu merintis usaha mandiri,” katanya melalui keterangan resmi Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia yang diterima RadarBuntok.com, Rabu (13/5).

Menurutnya, strategi ketenagakerjaan 2025–2029 berfokus pada penguatan link and match vokasi dengan industri serta perlindungan pekerja informal dan regulasi ketenagakerjaan.

“Penguatan kolaborasi vokasi dan industri menjadi kunci agar pelatihan selaras dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengelolaan BLK kini menggunakan pendekatan user journey agar layanan pencari kerja lebih tepat sasaran dari pelatihan hingga penempatan kerja.

“Pelatihan tidak lagi hanya berorientasi kelas, tetapi mengedepankan Project-Based Learning dan program magang langsung di industri,” tambahnya.

Yassierli juga menyampaikan pentingnya kolaborasi BLK dengan dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas untuk memperkuat ekosistem pengembangan SDM.

“Kolaborasi yang kuat akan memastikan pelatihan vokasi semakin relevan dengan kebutuhan industri,” katanya.

Salah satu peserta pelatihan BLK, Rina Pratiwi, mengaku memperoleh pengalaman baru melalui metode pelatihan berbasis proyek dan magang industri.

“Pendekatan pembelajaran berbasis proyek membuat kami lebih siap menghadapi tantangan kerja nyata di lapangan,” ujarnya.

Saat ini BLK memanfaatkan data berbasis teknologi informasi untuk memetakan kebutuhan pasar kerja secara presisi sekaligus mempermudah evaluasi dampak program pelatihan. (rls/am)